Komodo Terancam Punah, Ternyata Ini Lho Alasannya!

Wajib Dibaca Juga!

Biawak Komodo atau sering disebut komodo merupakan spesies biawak terbesar yang ada di Pulau Komodo, Flores, Gili Motang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penduduk asli Pulau Komodo biasanya menyebut binatang ini “Ora”. Biasanya, Komodo juga dikenal sebagai kadal terbesar di dunia.

Namun sayangnya, Komodo terancam punah karena permukaan air yang naik dan membuat habitat asli hewan ini menyusut.

Saat ini Komodo telah terdaftar dalam status rentan, sebagai spesies yang terancam punah di International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Shutterstock/duchy

Perubahan status spesies ini adalah kasus pertama dalam lebih dari dua dekade.

Makalah peer-review yang dibahas tahun lalu membahas tentang bagaimana pemanasan global akan sangat meningkatkan kemungkinan Komodo terancam punah. Juga disimpulkan bahwa harus dilakukan konservasi yang mendesak untuk mencegah punahnya kadal besar ini.

Kadal asli asal Indonesia yang sebagian besar hidup di Pulau Komodo itu memiliki habitat asli di area hutan atau sabana terbuka.

Kemampuan hidupnya di daratan yang harus di atas 700 di atas permukaan laut menunjukkan bahwa naiknya permukaan laut akan sangat berpengaruh terhadap punahnya Komodo.

Menurut pihak IUCN, permukaan laut yang naik akan berdampak pada 30 persen pada habitat Komodo 45 tahun yang akan datang.

Meski saat ini sub-populasi di Taman Nasional stabil dan terkendali dengan sangat baik, tapi populasi hewan ini telah menyusut lebih dari 40 persen dalam rentang 1970 hingga 2000 di Pulau Flores.

Shutterstock/Mo Wu

Spesies yang diperkirakan bersisa 5000-an ekor ini juga terancam karena adanya aktivitas alam seperti kegiatan gunung berapi, gempa bumi, perburuan manusia, dan masih banyak lagi.

Menurut Direktur Konservasi di Zoological Society of London (ZSL), Dr Andrew Terry, alasan Komodo terancam punah karena perubahan iklim yang sangat ekstrim.

Diketahui bahwa IUCN bukanlah satu-satunya organisasi yang khawatir Komodo terancam punah. Sebelumnya pada tahun 2020, peneliti Australia mengungkap bahwa krisis iklim bisa membahayakan populasi Komodo.

Dalam penelitian yang dikepalai oleh University of Adelaide dan University of Deakin tersebut mengungkapkan bahwa dampak dari pemanasan global dan naiknya permukaan laut membuat Komodo terancam punah, yang kini reptil raksasa itu sudah memiliki habitat terbatas.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ecology and Evolution ini merupakan hasil kerja lapangan selama bertahun-tahun tentang ekologi dan status konservasi Komodo. Dalam penelitian itu, para peneliti menggunakan lebih dari satu juga simulasi dengan baragam parameter seperti model iklim global, emisi gas rumah kaca, serta perkiraan demografi Komodo.

Shutterstock/Dwi Prayoga

Dalam penelitian tersebut dijelaskan juga bahwa konservasi Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, memiliki risiko yang lebih kecil dari ancaman pemanasan global dan naiknya air laut. Namun, para peneliti sedikit ragu bahwa orang-orang yang berkepentingan dalam hal ini akan menjamin habitat yang nyaman untuk Komodo di dua pulau itu.

Reptil raksasa ini diperkirakan memiliki panjang hingga tiga meter, dapat hidup sekitar 30 hingga 50 tahun, dan mampu bergerak dengan kecepatan hingga 12 mph.

Komodo jantan rata-rata memiliki berat hingga 90 kg dan betina hingga 70 kg.

Komodo terberat yang pernah tercatat memiliki bobot lebih dari 150 kg, itu termasuk makanan yang tidak tercerna di dalam perut Komodo.

Hewan ini memakan kelelawar buah, babi, rusa, dan kerbau. Air liurnya yang berbisa mampu membuat tekanan darah mangsanya tiba-tiba turun dan mencegah darahnya membeku.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Populer